Sejarah perkembangan Islam di Ponjong dan Karangmojo

Perkembangan dakwah Islam di Ponjong dan Karangmojo tak lepas dari seorang Ulama asal Balepanjang, Baturetno, Wonogiri yang bernama Kyai Nur Muhammad, beliau merupakan keturunan Sunan Ampel Dento.

Pada awalnya Kyai Nur Muhammad adalah pemimpin para kaum di Kauman Kasunanan Surakarta. Konon beliau diangkat menjadi ketua Kaum/ Penghulu Keraton karena memenangkan sayembara bendung kali Bengawan Solo. Waktu itu Bengawan Solo sering meluap dan harus dibendung supaya airnya bisa dikontrol dan tidak meluap, namun upaya pembendungan selalu gagal karena diganggu mbaureksone Bengawan Solo yang berwujud Bajul Putih dan Yuyu Rumpung. Akhirnya Bengawan Solo dijeguri oleh Kyai Nur Muhammad, untuk menakhlukkan kedua dedemit tersebut, yang konon beliau harus nyilem 7 hari 7 malem.

Akhirnya Bajul Putih dan Yuyu Rumpung bisa di KO, kyai Nur Muhammad memenangkan sayembara, dan diangkat menjadi pegawe kantoran, ehh, Pemimpin para Kaum di Kauman. Namun setelah beberapa tahun berjalan, Kyai Nur Muhammad merasa lahan dakwahnya terbatas bila beliau menjadi pegawe kantoran, sehingga akhirnya beliau menghadap Raja dan nyuwun diberi tanah untuk mendirikan pondok pesantren.

Sang raja menyetujui, namun ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu beliau diminta untuk memberi pembekalan agama dan rohani kepada prajurit keraton terutama yang akan bertempur. Akhirnya Kyai Nur Muhammad diberi tanah di Baturetno sekarang ini, yang dulunya masih berupa hutan. Setelah dibabat, didirikan Pondok Pesantren, juga dibangun balai² panjang tempat beristirahat para prajurit setelah digladi. Karena banyak balai² panjang, akhirnya daerah tersebut disebut BALEPANJANG.

Setelah Pondok berdiri, mulailah pesantren beliau ramai oleh santri. Pada akhirnya dakwah islam di Wonogiri, Pacitan, bahkan Ponjong berkiblat di Bale Panjang ini.

Salah satu buktinya adalah, semua santri kyai Nur Muhammad ketika diutus untuk berdakwah ke daerah baru selalu dibekali Al Qur’an hasil tulisan tangan beliau, dan kadang juga dibekali tongkat. Al Qur’an tua yang ada di Wonogiri, Susukan Ponjong, Wonodoyo, dan Branjang Ngawis hampir dapat dipastikan merupakan sangu dari Kyai Nur Muhammad karena tulisan, tanda², dan kertasnya sangat mirip.

Quran Tulisan Tangan Kyai Nur Muhammad di Branjang Ngawis
Quran Tulisan Tangan Kyai Nur Muhammad di Branjang Ngawis

Hal ini jika dikaitkan dengan sejarah Ponjong sangat masukk akal. Pada akhir tahun masehi 1750an, wilayah Bunder Patuk (etan kali oya) sampai Tambakromo masih merupakan daerah Mangkunegaran (berdiri 1757). Pemimpin² yang dikirim ke Ponjong pun berasal dari trah Mangkunegaran, konon salah satunya adalah Eyang Mangunkusuma yang sumare di Gunung Tutup. Naaah, para ulama sebagai penasehat bopati pun diambil dari Wonogirinan, yaitu santri²nya Kyai Nur Muhammad.

Quran Tulisan Tangan Kyai Nur Muhammad di Wonodoyo
Quran Tulisan Tangan Kyai Nur Muhammad di Wonodoyo

Buktinya adalah dua pesantren tua di Ponjong, yaitu di Wonodoyo yang dipimpin oleh Kyai Haji Muhammad Ikhsan yang menurut sejarah Masjidnya didirikan 1824 dan Pesantren di Susukan (sekarang menjadi makam pesantren belakang SMP Muhammadiyah) yang dipimpin oleh Kyai Haji Mohammad Sholeh sama² memiliki Al Qur’an tulisan tangan, yang keduanya amat mirip, walaupun yang di Susukan cenderung sudah rusak tak seutuh Wonodoyo. Kemudian di Branjang Ngawis, juga terdapat banyak kitab, selain Al Qur’an tulisan tangan Kyai Nur Muhammad.

Wajar karena Kyai Muhammad Irsyad adalah cucu Kyai Nur Muhammad, sehingga sangunya lebih banyak ?.

Quran Tulisan Tangan Kyai Nur Muhammad di Susukan 1
Quran Tulisan Tangan Kyai Nur Muhammad di Susukan 1

Dari buku babat Alas Branjang pun disebutkan, bahwa Kyai Haji Mohammad Sholeh lebih dulu berdakwah di Ponjong, menjadi penasehat Bupati Mangun Negara waktu itu. Sedangkan kita tahu, bupati Pertama Gunungkidul seharusnya Poncodirjo, tetapi malah tidak disebut. Kemungkinannya adalah Mangun Negara atau Mangun Kusuma adalah bupati ketika Ponjong masih wilayah Mangkunegara, belum menjadi bagian dari wilayah Ngayogjokarto (pindah kepemilikan tahun 1831).

Hipotesisnya:

  1. Kyai Haji Muhammad Sholeh (makam di Susukan) merupakan ulama awal yang ditugaskan di Kadipaten Pathi sekitar tahun 1790an bersama bupati kiriman Mangkunegara yang juga berasal dari Balepanjang, karena selain dibekali Al Qur’an beliau juga dibekali tongkat yang merupakan isyarat dari Kyai Nur Muhammad untuk babat alas sebagaimana santri² beliau yg juga babat alas di Wonogiri dan sekitarnya. Selain itu, makam Kyai H Moh Sholeh juga berada satu kompleks makam, bersebelahan dengan eyang Buyut kami Kyai Haji Kasan Mentaram / Abdul Syukur yang menurut eyang berasal dari Balepanjang, dan juga dikuatkan pernah adanya utusan dari Balepanjang yang silaturrahim ke Susukan sekitar tahun 1960 untuk mencari Eyang Kasan.
  2. Kyai Haji Mohammad Ikhsan asli Wirik, mondok ke Balepanjang sekitar tahun 1810an, masih era Mangkunegaran. Kembali ke Wonodoyo disangoni Al Qur’an tulisan tangan Kyai Nur Muhammad, lalu membuka pondok di Wonodoyo. Setelah wilayah Ponjong menjadi bagian dari Kasultanan Yogyakarta, beliau diangkat menjadi Penghulu Keraton, dihajikan dan kembali ke Wonodoyo.
  3. Kyai Moh Sholeh mendapat tugas untuk membuka hutan² yang menjadi sarang penyamun, salah satunya di Branjang Ngawis Karangmojo, namun karena kemungkinan beliau sudah tidak muda lagi, beliau mengusulkan kepada bupati Mangun Kusuma untuk mendatangkan cucu guru beliau, yaitu Kyai Irsyad yang sudah terbukti berhasil membuka hutan Kedungdowo, Manyaran, Sukoharjo, yang karena keberhasilannya tersebut Kyai Irsyad akhirnya dipek mantu Demang Sampak (tempat hutan Kedungdowo), Demang Malang Serika. Akhirnya Kyai Irsyad setuju dan boyongan dari Sampak pindah ke Branjang Ngawis.
  4. Pesantren yang dipimpin Kyai Muhammad Irsyad / Kyai Branjang dan putra² beliau akhirnya menjadi tempat nyantri penduduk Karangmojo dan Ponjong, setelah Pesantren di Susukan dan Wonodoyo mengalami surut. Salah dua santri Kyai Branjang yaitu mbah Kaum Sangadi/Ahmad Rasyid dari Blimbing Umbulrejo mbah buyute ustadz Irwan Triyanto , dan juga Mbah Kaum Roli dari Sladi (nunggak semi namanya dipake buyutnya)?
  5. Cucu Kyai Irsyad, yaitu Sujak Muhammad Jamal bin Karyorejo dan beberapa cucu yang lain nyantri kepada Kyai Haji Ahmad Dahlan, KH Badawi, KH Hadi dll sehingga mereka membawa Muhammadiyah ke Branjang sehingga anggota Muhammadiyah awal Gunungkidul banyak yang berasal dari Branjang, dan banyak didirikan AUM di Branjang.

Anharoly Listianto dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: